Ingat-ingat kembali saat Anda menyerap pelajaran di kelas pada masa Anda masih duduk di bangku sekolah. Dulu, saat Anda sedang duduk mendengarkan materi yang disampaikan guru, kapan Anda mulai jemu mendengarkan materi? Apakah sejak awal dari sejak guru itu menerangkan? Atau. Di tengah-tengah pelajran setelah satu jam berlalu atau akhir pelajaran karena daya tahan Anda menyerap informasi sudah lelah?

Apa jadinya jika guru Anda hanya menyuruh Anda membuka buku biologi, misalnya bab tentang sistem pencernaan tubuh mungkin, isi buku itu hanya jadi berupa teks kalimat-kalimat yang semakin memusingkan. Anda mulai tidak mengerti mengapa perjalanan makanan padat yang masuk mulai dari mulut bisa berahir diserap usus dan sebagian sarinya yang tidak terserap lagi oleh usus halus akan berakhir menjadi ampas untuk dibuang melalui anus. Jangankan Anda bisa mencari benang merah dalam dinamika system pencernaan tubuh yang rumit dan menuntut banak hafalan istilah biologi, membaca teks-teks kalimat itu sudah terasa menjemukan.

Bagaimana Anda menilai kemampuan Anda dalam pelajaran biologi? Apakah Anda merasa bodoh dalam menguasai pelajaran biologi? Atau, justru Anda berminat, tetapi membaca teks-teks kalimat adalah hal yang menjemukan sehingga perlahan-lahan, Anda mulai kehilangan minat untuk mempelajari biologi, tetapi mulai frustasi karena nilai biologi Anda selalu saja rendah bahkan jelek.

Sebaiknya, jangan terburu-buru menilai bahwa Anda bodoh, tidak berminat, atau ,e,utuskan tidak suka terhadap mata pelajaran biologi. Siapa tahu metode penyampaian materi pelajaran biologi itulah yang tidak sesuai dengan gaya belajar Anda.

Gaya belajar Anda mencerminkan kebutuhan otak Anda di dalam merespon suatu informasi berdasarkan struktur otaknya. Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda sesuai dengan daya respon otaknya. Tidak ada orang yang bodoh ataupun lamban dalam menerima pembelajaran. Yang ada hanyalah karakteristik apa yang dimiliki seseorang dan apa yang paling cocok untuk metode pembelajarannya. Artinya, gaya belajar Anda akan memiliki daya respon tinggi yang berbeda sesuai dengan fungsi bagian otak yang lebih dominan.

 

Melihat, Mendengar, Mersakan?

Mari kita kembali pada kasus sebelumnya dan menyimak contoh ilustrasi berikut (guru biologi-Guru A-menerangkan materi system pencernaan tubuh).

Guru A masuk kelas memberikan materi tentang system pencernaan tubuh. Ia bertanya kepada murid-muridnya, apakah mereka sudah mempelajari materi tentang system pencernaan tubuh d rumah? Ia menyuruh semua murid membuka bab tentang system pencernaan tubuh. Biasanya, ia lebih banyak menerangkan dengan metode ceramah dari awal sampai akhir pelajaran. Namun, kali ini, metode pengajaran yang biasanya hanya sesekali ia tulis di papan tulis ia ganti dengan sutu alat peraga anatomi susunan tubuh manusia. Sebagian baesar murid yang tadinya tidak tertarik dengan materi biologi yang terasa membosankan (karena harus menghafalkan istilah-istilah latin biologi) mulai terlihat tertarik. Alat peraganya berbentuk setengah tubuh masnusia yang memperlihatkan bagian system pencernaan tubuh secara terbuka dengan bentuk tiga dimensi. Setiap bagian organ dari system tubuh itu diberi warna-warni yang menarik.

Alhasil, suasana kelas menjadi hidup. Anak-anak yang biasanya rebut ngobrol karena jenuh kali ini rebut untuk mencocokkan istilah-istilah enzim system pencernaan yang ada di buku dengan alat peraga. Sebagian anak yang lain terlihat seperti tidak memperhatikan alat peraga, tetapi mereka tetap berkonsentrasi dengan mendengarkan penjelasan guru A sambil tangan mereka terlihat mencoret-coret sesuatu di buku catatan. Hal yang menarik adalah ternyata, masih ada sebagian kecil murid yang terlihat masih sulit mencerna sekalipun sudah dibantu dengan alat peraga sambil diterangkan dengan metode ceramah. Dahi mereka terlihat masih berkerut. Semakin lama mendengarkan penjelasan panjang lebar dari guru, dahi mereka makin berkerut dan posisi duduk mereka mulai tidak bisa diam seperti gelisah.

Akhirnya, Guru A melihat gelagat sebagian kecil murid yang tampak gelisah. Ia tidak marah, tetapi bertanya kenapa mereka tampak tidak nyaman/ Dengan takut-takut, mereka menjawab lrih, “Maaf, kami masih bingung, Pak..” Guru A jadi mulai heran. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah ada yang salah dengan metode mengajarnya. Guru ini mulai memutar otak mencari cara untuk menjelaskan materi sehingga seluruh murid bisa memahami pelajaran tanpa terkecuali.

Ia berinisiatif untuk melakukan langkah kecil, mencoba mendekati alat peraga kepada murid yang masih belum paham. Guru A mencoba mendorong murid-muridnya yang lain, “Ayo siapa lagi tadi yang belum paham, coba mendekati kemari.” Sebagian kecil murid yang merasa tidak mengerti mulai berkerumun mendekat. Salah seorang murid bertanya, “Pak, boleh nggak kita pegang organ-organ mana saja yang termasuk bagan dari system pencernaan?”

Guru A mengangguk dan mempersiapkan. Seorangmurid maju untuk meraba alat peraga. Sementara itu, murid yang lain meraba organ tubuh pencernaan sambil mulai mencocokan dengan isi buku yang sedang ia pegang, kemudian berkata dengan lega, “Oooo…, maksudnya Pak guru, usus halus ini letaknya di sini toh…!” Ada lagi murid yang meraba sambil mulutnya berkomat-kamit, “Ini usus 12 jari, terus kalo yang ini usus besar, terus ini bagian rectum adalah ruangan yang berawal dari ujung usus besar dan berakhir di anus.”

Melihat murid-muridnya tampak bersemangat, Guru A pun semakin bersemangat untuk menyempurnakan metode pelajaran. Kemudian, merangsang imajinasi murid-muridnya. “Nah, Anak-anak, untuk mempermudah pemahaman kalian tentang system pencernaan tubuh, bayangkan ada satu buah apel masuk ke dalam mulut kalian. Lalu, lihatlah di buku, apakah bagian organ system pencernaan yang merupakan pintu gerbang awal makanan masuk?” Parasiawa pun menjawab serempak, “mulut.” Selanjutnya, guru itu mulai menerangkan bagaimana dinamika perjalanan panjang apel yang masuk mulai dari mulut bisa berakhir diserap usus dan sebagian sarinya yang tidak terserap lagi oleh usus halus akan berakhir menjadi ampas untuk dibuang melalui anus.

Biasanya, kemampuan imajinasi akan semakin kaya dengan adanya  analogi contoh lain. Kali ini, Guru A memberikan analogi mesin mobil ibarat menerangkan sistem pencernaan manusia. Oleh karena itu, guru tersebut menerangkan bahwa sistem pencernaan, seperti halnya seluruh system mesin, terdiri atas berbagai komponen. Berkat kerja sempurna setiap komponennya, kita bisa mencerna makanan. Sangat penting bahwa komponen system  pencernaan ini saling selaras dan sempurna karena seluruh system akan gagal jika tidak demikian. Sekarang mari kita ambil sebuah contoh untuk menggambarkan mengapa seluruh komponen sebuah system harus lengkap agar sitem itu bekerja dengan baik.

Sebuah mobil terdiri atas roda, motor, busi, radiator, aki, gigi perseneling, kabel, dan lain-lain. Demikian pula halnya system pencernaan terdiri atas berbagai komponen, yaitu mulut, gigi, lidah, kerongkongan,lambung,usus, dan anus. Sekarang pikirkanlah. Apakah mobil akan berjalan jika tidak ada roda? Tentu saja tidak. Mobil itu hanya bisa berjalan jika seluruh bagian bekerja sama. Hal yang sama berlaku pula untuk system pencernaan. Adanya lambung tidak aka nada artinya, kecuali jika ada kerongkongan. Demikian pula, usus tidak mungkin berguna jika tidak ada lambung karena makanan digiling menjadi halus yang akan diteruskan ke sel-sel tubuh.

Guru A terus menerangkan di tengah-tengah antusias murid yang sudah terbangkitkan. Tanpa terasa, bel pun mengakhiri jam pelajaran biologi yang  terasa mengasikkan itu. Guru A tampak sumringah karena bisa mengatasi kesulitan sebagian kecil muridnya dalam memahami materi pelajaran. Tentunya, guru mana pun akan mendapatkan kepuasan batin tatkala mampu memberikan pencerahan pemahaman kepada murid-muridnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *