Melalui  fingerprint analysis, dapat dilihat bahwa struktur otak sangat memengaruhi bakat seseorang. Sejak bayi beusia 13-24 minggu dalam kandungan, terjadi pertumbuhan sel otak, yang semakin lama membentuk struktur otak seseorang. Perbedaan dominasi otak setiap orang membawa konsekuensi perbedaan pada fungsi ognitif untuk berpikir dan fungsi emosi untuk merasa. Hal itu bersifat unik dan berbeda satu sama lain. Bahkan, anak kembar sekalipun akan memiliki ciri pembeda karena mereka juga diciptakan dengan struktur otak yang berbeda. Perbedaan dominasi otak juga memiliki konsekuensi perbedaan bakat yang merupakan bawaan lahir. Artinya, bakat adalah kemampuan bawaan yang bersifat inheren/melekat yang dibawa ssejak lahir dan terkait dengan struktur otak.

Uniknya. Otak bukan sekadar daging tumbuh. Otak berkembang terbuka tehadap intervensi lingkungan dari luar, misalnya intervensi pengalaman, pendidikan, dan gaya hidup sehari-hari yang berbeda akan membuat struktur otak setiap  manusia berbeda-beda pula. Namun, meskipun memiliki system terbuka, otak memilki batas tertentu menerima investasi karena ada faktor genetis yang tidak bisa diubah. Hal itu samahalnya dengan jejak kode genetis pola sidik jari yang tidak bisa berubah hingga akhir hayat.

Berdasarkan penellitian Howard Garner yang memiliki latar belakang medis dan pendidikan dari univesitas Harvard, diketahui bahwa ada delapan kemampuan otak yang berkaitan dengan soesifikasi struktur kecerdasan dan bakat seseorang tersebut terjadi karenamanifestasi genetic pada proses perkembangan susunan saraf pusat. Salah satunya bisa dideteksi melalui rekaman garis-garis sidik jari yang memuat informasi genetic untuk menentukan struktur otak bagian mana yang dominan. Dominasi otak merupakan salah satu keunikan otak manusia. Mengenali dominasi otak merupakan salah satu cara mengenal diri karena gaya berpikir (style of thinking) seseorang akan tercermin dan sejalan dengan kebutuhan gaya belajar (style of learning) yang unik.

Penelitian neuroscience (otak dan fungsinya), ilmu genetika, dermatoglyphics, dan ilmu psikologi perkemabngan semakin memperkuat interpretasi untuk mendapatkan referensi yang akurat mengenai siapa sesungguhnya diri kita. Hampir semua riset membuktikan bahwa ada biological root dari setiap kerja otak dan perilaku kita. Artinya, para ilmuwan neuroscience meneliti bahwa diri manusia pun disertai “manual book”.

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mencari tahu tentang polas idik jari dan kegunaannya untuk berbagi keperluan. Perkembangan teknologi computer sangat mendukung penelitian ilmu dermatoglyphics ini dan software-software aplikasi untuk mengidentifikasi sidik jari dengan akurasi tinggi telah dikembangkan. Beberapa tahun belakangan ini, pemanfaatan ilmu dermatoglyphics untuk keperluan pendidikan dan pengembangan HRD gencar dlakukan dan disambut dengan antusias tinggi dari kalangan peneliti asal negri Cina, Taiwan,Jepang, dan sebagainya. Sementara itu, kalangan ilmuwan Barat tmpaknya sangat berhati-hati untuk penelitian hal tersebut. Perbedaan ini tampaknya timbul karena ilmuwan Barat sangat menjunjung tinggi rasionalitas dan prosedur standar ilmiah untuk sesuatu penemuan baru, sedangkan kalangan ilmuwan Timur cenderung mewarisis cara pandang yang lebih holistik.

Analisis sidik jari masih menjadi penelitian yang berkelanjutan dan tentunya bertujuan untuk kemajuan hidup manusia. Dalam hal ini yang lebih difokuskan adalah hubungan pola sidik jari dengan analisis psikologis karakteristik seseorang. Hal pertama yang perlu kita pahami adalah pembentukan polas sidik jari.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *