Pola pembentukan garis-garis sidik jari terbentuk sejak embrio berusia 13 minggu dalam kandungan. Saat itu, tonjolan di ujung jari, interdigital, area thenar (berhubungan dengan telapak tangan dan kaki), dan hypothenar di tangan mulai terbentuk. Formasi tersebut terlengkapi ketika janin berusia 24 minggu dan terus berkembang seiring dengan perkemabangan sel saraf otak. Jumlah garis0garis sidik jari tidak akan pernah berubah setelah bayi dilahirkan karena pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA seseorang. Jadi, polas sidik jari bersifat diturunkan sari orangtua si anak.

Otak memiliki factor-faktor genetis yang tidak dapat diubah sehingga memiliki batas tertentu dalam menerima investasi dari luar. Namun, otak merupakan system terbuka terhadap lingkungan dan itulah yang menyebabkan setiap orang unik. Artinya, secara bawaann genetis, jumlah sel saraf otak tidaklah bartambah, seperti halnya jumlah garis-garis sidik jari. Bagian yang jumlahnya serubah adalah sambungan sel saraf otak yang disebut synaps. Jumlah sambungan sel ini akan bertambah ketika otak mendapatkan stimulasi dari lingkungan ketika menyerap pengalaman, pendidikan, dan pelajaran secara terus-menerus sepanjang hayat. Sel saraf memang mengalamipertumbuhan, tetapi ia juga mengalami proses berhenti tumbuh. Sel saraf mengalami proses perampingan (pruning), bahkan jika neuron-neuron tersebut tidak terkoneksi, ia akan mengalami kematian (apoptosis).

Hal itu kita analogikan sebagai berikut. Bayangkanlah bahwa kotak gelap di sebelah kiri bawah ini menggambarkan keadaan tersebut belum berfungsi karena belum mendapatkan rangsangan stimulasi dari lingkungan untuk berkemabng. Situasi itu ibarat kota gelap yang sudah serbalengkap, tetapi belum memiliki gardu listrik unruk memberi panerangan. Paerlahan-laha, ketika otak mulai mendapatkan rangsangan cahaya, suara, atau peradaban, perlahan-lahan terjadi sambungan natar neuron. Hal itu sama gulita mulai menyala. Semakin banyak sambungan neuron yang terbentuk karena rangsangan, semakin terang juga sambungan gardu listrik yang menerangi kota gelap menjadi terang benderang.

Berdasarkan hal itu, kita ketahui bahwa otak merupakan  system yang dinamis. Cara kerja otak terwujud dari hasil interaksi antara cetak biru (blueprint) genetis dan pengaruh lingkungan. Sebenarnya, ketika lahir, karakteristik system organisasi otak (pembagian sel) sudah dalam kondisi sempurna. Namun, proses perkemabngan selanjutnya sangat tergantung stimulasi lingkungan tingkat lanjut.

Proses perkembangan selanjutnya sangat tergantung stimulasi lingkungan tingkat lanjut.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *