Pertanyaan klasik yang sering muncul adalah apakah kepribadian seseorang itu lebih dominan dipengaruhi oleh sifat bawaan (nature) atau lingkungan (nurture). Nature mewakili pengalaman biologis seseorang, sedangkan nurture mewakili pengalaman lingkunganya. Perkembangan tahapan setiap anak manusia tidaklah hanya dapat dijelaskan oleh nature saja ataupun nurture saja. Namun, ada perbedaan faktor mana yan paling dominan memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang dari dua faktor tersebut.

Dalam konteks nature, kepribadian seseorang dipengaruhi oleh struktur genetis. Pengaruh nature bersifat genetis, berkaitan dengan struktur DNA yang bersifat menurun. Setiap anak terlahir dengan ragam kombinasi struktur DNA yang mewarisi dari orangtuanya. Dengan demikian, wajar jika setiap anak yang terlahir tidaklah sama. Perbedaan bukan hanya terlihat pada wujud fisik, tetapi juga secara karakteristik, yang muncul akibat kerja struktur biologis yang memiliki kekhasan masing-masing.

Struktur genetis seseorang merupakan cetak biru (blue print) kekuatan dan kelemahan seseorang serta merupakan “kode” setiap individu sebagaimana adanya. Dengan memecahkan kode genetis tersebut, berarti seseorang telah mendapatkan informasi yang sangat akurat mengenai siapa dirinya sebenarnya. Kode genetis mencerminkan kepribadian nature seseorang yang merupakan inti padat dari sifat-sifat yang mencerminkan esensi unik setiap manusia, yang dinamakan trait. Menginterpretasikan kode genetis akan membantu seseorang mengenai jati diri secara lebih akurat dan presisi. Dengan mengenali jati diri, seseorang akan tahu bagaimana memandang tujuan hidup.

Ketimbang mencari tahu jati diri dengan metode-metode eksperimen yang melelelahkan, ada baiknya kita berusaha untuk “langsung membaca” kode genetis yang ada dalam diri kita. Kita terlahir bersama kode genetis tersebut. Penelitian neuroscience (otak dan fungsinya), ilmu genetika, dermatoglyphics,dan ilmu psikologi perkembangan semakin memperkuat interpretasi untuk mendapatkan referensi yang akurat siapa sesungguhnya diri kita. Namun, terkadang mengetahui kode genetis membuat kita untuk cenderung memberikan diagnosis premature atau self-fulfilling dan hal tersebut perlu diantispasi sejak awal.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *